Wednesday, July 1, 2015

Sosialisasi Seni Budaya dan Bahasa Indonesia di Sofia,

“Saya sangat kagum melihat minat tinggi mahasiswa Kelas Bahasa dan Budaya Indonesia terhadap budaya Indonesia. Di luar dugaan, ternyata mereka juga sangat berbakat dan mampu  membawakan tarian tradisional Indonesia dan lagu-lagu Indonesia. Oleh karena itu kehadiran Kelas Bahasa dan Budaya Indonesia di Universitas Sofia sangat penting dan perlu mendapatkan dukungan penuh”.

Demikian kesan  Dr. Galina Rouseva Sokolova, Wakil Dekan Fakultas Classical and Modern Philology Universitas Sofia yang disampaikan sesaat setelah menyaksikan penampilan para mahasiswa pada acara penutupan Kelas Bahasa dan Budaya Indonesia Universitas Sofia tahun akademi 2014/2015, pada 28 Juni 2015.  Dr. Sokolova juga menjelaskan bahwa sejak awal dirinya yakin bahwa Kelas akan mendapatkan perhatian khusus para mahasiswa. 

Thursday, June 18, 2015

KBRI Ottawa 'memindahkan' Bali ke Kanada

Ottawa – Ada banyak cara untuk mempromosikan Indonesia kepada dunia, seperti KBRI Ottawa yang menggelar ‘Bali in Ottawa: Indonesian Festival 2015′. Masyarakat Kanada pun antusias dengan beragam budaya, masakan dan wisata Indonesia khususnya dari Pulau Dewata. (lihat dokumentasi photo)

Dari rilis KBRI Ottawa yang diterima detikTravel, Minggu (14/6/2015) ‘Bali in Ottawa: Indonesian Festival 2015′ merupakan acara tahunan yang digelar KBRI Ottawa. Ottawa merupakan ibukota negara Kanada dan salah satu kota yang padat penduduknya di sana.

Tuesday, May 19, 2015

Tari Topeng Bali di World Expo Milano 2015 Dapat Sambutan Meriah

19 Mei 2015
Empu tari topeng Bali, I Made Djimat bersama aktor serba bisa warga negara Italia yang telah berguru kepada Djimat mendalami tari topeng Bali selama lebih dari 35 tahun, Enrico Maserolli, tampil memikat dihadapan pengunjung Paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015. (17/5)

Penampilan kostum tari dan topeng yang berganti-ganti, dipadu dengan gerakan ekspresif dan denting suara tabuhan gangsa menjadi persembahan unik dibandingkan suasana sekitar. Persembahan ini mendapat apresiasi tinggi dari penonton. 

Kedua aktor menampilkan berbagai karakter tokoh dan orang biasa dengan berbagai profesi. Pengunjung dapat melihat tontonan khas Indonesia dalam ekspresi Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar, Topeng Dalem, Topeng Bonderes, Topeng penjual makanan dan minuman, Topeng Kera dan Topeng Gadis Nyoman Semariani yang menampilkan ekspresi tokoh raja yang keras, orang tua yang bijaksana, orang biasa yang santai dan bebas berekspresi, hamba sahaya yang periang, orang gagap maupun gasi yang centil.

Penampilan tersebut merupakan kerjasama dan kontribusi KBRI Roma dalam kerjasama dengan ITPC Milan dan KPBN serta Artha Graha untuk memeriahkan acara Seni Budaya Paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015. (Sumber: KBRI Roma/Dit. Infomed/Ed. Aji)

Sunday, May 17, 2015

Bela Sungkawa Untuk BB King

Berbagai musisi dunia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya BB King yang dipandang sebagai salah seorang musisi blues terbaik di dunia.

BB King meninggal dunia pada usia 91 tahun di Las Vegas. Baru-baru ini dia dirawat di rumah sakit karena menderita suatu penyakit yang disebutkan terkait diabetes, demikian dikatakan oleh pengacaranya.

Ucapan belasungkawa antara lain disampaikan oleh Ringo Starr, mantan drummer The Beatles. "Semoga Tuhan menyertaimu BB King, damai dan cinta untuk keluarganya."
Adapun Lenny Kravitz mengatakan banyak orang bisa memainkan beragam nada tetapi tidak akan pernah bisa memainkan nada-nada seperti yang dimainkan oleh BB King.
Pemain gitar Bon Jovi, Richie Sambora menambahkan, "Teman saya dan legenda BB King meninggal dunia. Saya begitu sedih."

King menerima penghargaan Grammy yang ke-15 pada 2009 untuk albumnya One Kind Favor.

Gaya permainan gitarnya mempengaruhi generasi pemain gitar. Semasa kecilnya, ia terbiasa bekerja di ladang kapas di Negara Bagian Mississippi, Amerika Serikat, tempat kelahirannya.
King kemudian bekerja sebagai musisi jalanan pada 1940-an sebelum melejit menjadi bintang.

Selama kariernya, ia mengggelar ribuan konser di dunia dan tetap tampil prima ketika usianya menginjak 80 tahun.Bagaimanapun jadwal turnya sempat terganggu karena BB King mengunjungi 15 anaknya. (BBC Indonesia)

Saturday, May 9, 2015

Misi Seni Budaya Indonesia Di Spanyol



08 Mei 2015
Misi budaya Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia di Spanyol. Misi budaya SMP Al-Ikhlas Cipete, Jakarta berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi tarian “Sea Sun Festival: Fiestalonia International Art Festival and Contest” yang diselenggarakan di kota Lloret de Mar (3-8/5)

Dalam kompetisi tersebut, misi budaya SMP Al-Ikhlas "Tralix" (Tari Tradisional Al-Ikhlas) yang dilatih oleh pimpinan Sanggar Tari Tradisional Gema Citra Nusantara, Sdr. Mira Marina Arismunandar, berhasil menyisihkan peserta lainnya yang berasal dari 7 (tujuh) negara seperti Kazakhstan, Azerbaiyan, Irlandia,  Iran, Spanyol, Georgia dan Uzbekistan.

Pada penampilan di acara festival tersebut, misi budaya SMP Al-Ikhlas  membawakan kombinasi Tari Gending Sriwijaya, Tari Saman dan Tari Piring Aceh serta permainan alat musik angklung. Penampilan mereka mendapat sambutan meriah dan apresiasi dari para penonton serta para juri yang hadir.

Para penonton juga menyampaikan ketertarikannya terhadap tarian dan kostum yang meriah khas Aceh yang dikenakan oleh para penari. Untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini mereka telah mempersiapkan diri dengan latihan keras selama 3 (tiga) bulan.

Penampilan misi budaya SMP Al-Ikhlas disaksikan oleh ratusan penonton dari berbagai negara yang setiap tahunnya berdatangan untuk menyaksikan berbagai festival serta kompetisi seni dan budaya di kota Lloret de Mar.

Dalam misi budayanya ini, SMP Al-Ikhlas juga diberikan kesempatan dari pihak panitia untuk berwisata dan mengenal beberapa kota di sekitar Lloret de Mar seperti Girona, Barcelona dan Figueres.

Melalui prestasi misi-misi budaya dari Indonesia semacam ini diharapkan dapat membantu meningkatkan citra positif Indonesia di Spanyol dan pada jangka panjang meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Spanyol ke Indonesia. (Sumber: KBRI Madrid/Infomed)

Monday, March 9, 2015

40 Negara meraih beasiswa seni budaya Indonesia

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi secara resmi membuka penyelenggaraan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2015 yang melibatkan 70 peserta dari 40 negara termasuk Indonesia yang bertempat di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Senin 8 Maret 2015.

Dalam pidatonya Menlu Retno menyatakan rasa bangga menyambut para peserta Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2015. "Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk menyambut anda semua di Indonesia, khususnya para peserta Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2015," kata Menlu Retno .

Program BSBI 2015 itu diikuti 70 peserta dari 40 negara, antara lain Tiongkok, Ceko, Fiji Austria, Brunei Darussalam, Kamboja, Kanada, , Kroasia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, India, Myanmanr, Selandia Baru,Kazakstan, Laos, Malaysia, Papua Nugini, Mongolia, Rusia, Polandia, Spanyol, Kepulauan Solomon, Korea Selatan, Vietnam, Suriname, Thailand, Belanda, Filipina, Amerika Serikat, Timor Leste, Turki, Vanuatu, Spanyol.

Dari 70 peserta program BSBI itu, enam diantaranya berasal dari Indonesia. Para peserta dari Indonesia akan bertugas mendampingi para peserta dari negara lain.

Menurut Menlu, Program BSBI yang dimulai 13 tahun lalu itu merupakan alat bagi Indonesia untuk menggapai generasi muda di seluruh dunia.

"Mempelajari bahasa lain dan menghormati budaya lain di suatu negara bukan hanya soal mendapatkan pengalaman. Bahkan, itu berarti anda sedang membangun jembatan pemahaman, perdamaian dan kemakmuran bagi dunia," ujar dia.

"Kita memerlukan jembatan yang solid untuk menghadapi tantangan global dan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjut Retno.

Menurut Direktur Diplomasi Publik Kemlu Al Busyra Basnur, para peserta Program BSBI akan mempelajari bahasa, kesenian, dan kebudayaan Indonesia dengan mengunjungi enam kota yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Makassar, Bali.

"Khusus di Yogyakarta, mereka akan mempelajari tentang Indonesia secara akademis dari sisi kajian politik, ekonomi, sosial dan budaya. Di lima kota lain, mereka akan belajar seni budaya Indonesia, seperti tarian tradisional, cara memainkan alat musik tradisional, dan kearifan lokal," jelas dia.

Program BSBI itu akan berlangsung selama tiga bulan dan ditutup dengan sebuah pertunjukan kolosal bernama Indonesia Channel, yang akan diperankan oleh para peserta.

"Pertunjukan itu merupakan media di mana kita melihat kesuksean peserta mendapat pengalaman di Indonesia. Rencananya untuk tahun ini Indonesia Channel akan dilakukan di Bandung pada 15 Juni," ungkap dia.

Al Busyra menilai Program BSBI bermanfaat untuk mempromosikan kesenian, budaya, serta pariwisata Indonesia ke dunia internasional.

"Kami melihat program ini sangat bermanfaat. Para peserta ini setelah kembali ke negaranya masing-masing, mereka biasanya berperan aktif mempromosikan tentang Indonesia," ujar dia.
(sumber: antaranews.com)

Friday, December 26, 2014

Degung: The Sundanese music dance ensemble

Sundanese dances is a dance tradition that is a part of ritual, artistic expression as well as entertainment and social conduct among the Sundanese people of West Java, Indonesia. Sundanese dance is usually cheerful, dynamic and expressive, with flowing movements in-sync with the beat of kendang accompanied with Gamelan degung music ensemble.

In Sundanese culture the term ngibing means "to dance", but it is indeed performed in particular Sundanese style, usually performed between male and female couple. In West Java, all it takes is a woman’s voice and a drum beat to make a man get up and dance. Every men there breach ordinary standards of decorum and succumb to the rhythm at village ceremonies or weddings. The music the men dance to varies from traditional gong degung ensembles to the contemporary pop known as dangdut, but they consistently dance with great enthusiasm. Henry Spiller in "Erotic Triangles" draws on decades of ethnographic research to explore the reasons behind this phenomenon, arguing that Sundanese men use dance to explore and enact contradictions in their gender identities. Framing the three crucial elements of Sundanese dance—the female entertainer, the drumming, and men’s sense of freedom—as a triangle.[1]

Among Sundanese dances perhaps Jaipongan is the most popular styles and form. Jaipongan dance could be performed solo by a female dancer, in group of female dancers, as couple between professional female and male dancers, or as couple when professional female dancers invite male audience to dance with them. Other Sundanese dances include Topeng Sunda, Kandagan, Merak, Sisingaan, and Badawang dances. The Merak dance (peafowl dance) is a dance performed by female dancers inspired by the movements of a peafowl and its feathers blended with the classical movements of Sundanese dance, it symbolises the beauty of nature. Some dances might incorporated Pencak Silat Sundanese style movements. Because Sundanese culture are commonly developed among rice farming villages in mountainous Priangan, some dance rituals such as Buyung dance are involved in Seren Taun rice harvest festival, accompanied with angklung music. Rampak kendang on the other hand are actually synchronized kendang performances involving some coordinated dance movements. The Sundanese style of Reog dance is different than those of East Javanese Reog Ponorogo. The Reog Sunda performance combines comedy, joke, music, and funny comical movements and dances of the performers.[2]

Unlike its Javanese counterpart, there is no clear distinction based on social hierarchy between court dances and the commoners' dances in Sundanese tradition. Most of Sundanese dance traditions and its culture are developed by common people in villages, the fact partly contributed to Sundanese history; the absence of Sundanese court culture (keraton) since the fall of Sunda Pajajaran kingdom in the late 16th century. Sundanese people however are familiar with aristocratic culture of the menak (nobles) in Priangan region, especially in Cianjur, Bandung, Sumedang and Ciamis. The musical art such as Kacapi suling demonstrate the subtlety of aristocratic Sundanese arts.

In the 17th century the Sundanese Priangan region was held under Javanese Mataram kingdom, as the result the Sundanese culture were exposed to Kejawen (Javanese culture) influences, such as wayang and Javanese dance styles. Wayang Golek although performed in Sundanese language, style and themes, it bears the same frame of references with Javanese Wayang Kulit tradition, that often took episodes from Ramayana or Mahabharata. The courtly Sundanese dances were developed by Sundanese nobles such as Keurseus dance, Badaya Sunda, Sarimpi Kasumedangan, Ratu Graeni, Dewi and Wayang Orang dance in Sundanese Sandiwara style, all demonstrate the influences of Javanese Mataram courtly culture.