Tuesday, May 19, 2015

Tari Topeng Bali di World Expo Milano 2015 Dapat Sambutan Meriah

19 Mei 2015
Empu tari topeng Bali, I Made Djimat bersama aktor serba bisa warga negara Italia yang telah berguru kepada Djimat mendalami tari topeng Bali selama lebih dari 35 tahun, Enrico Maserolli, tampil memikat dihadapan pengunjung Paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015. (17/5)

Penampilan kostum tari dan topeng yang berganti-ganti, dipadu dengan gerakan ekspresif dan denting suara tabuhan gangsa menjadi persembahan unik dibandingkan suasana sekitar. Persembahan ini mendapat apresiasi tinggi dari penonton. 

Kedua aktor menampilkan berbagai karakter tokoh dan orang biasa dengan berbagai profesi. Pengunjung dapat melihat tontonan khas Indonesia dalam ekspresi Topeng Keras, Topeng Tua, Penasar, Topeng Dalem, Topeng Bonderes, Topeng penjual makanan dan minuman, Topeng Kera dan Topeng Gadis Nyoman Semariani yang menampilkan ekspresi tokoh raja yang keras, orang tua yang bijaksana, orang biasa yang santai dan bebas berekspresi, hamba sahaya yang periang, orang gagap maupun gasi yang centil.

Penampilan tersebut merupakan kerjasama dan kontribusi KBRI Roma dalam kerjasama dengan ITPC Milan dan KPBN serta Artha Graha untuk memeriahkan acara Seni Budaya Paviliun Indonesia di World Expo Milano 2015. (Sumber: KBRI Roma/Dit. Infomed/Ed. Aji)

Sunday, May 17, 2015

Bela Sungkawa Untuk BB King

Berbagai musisi dunia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya BB King yang dipandang sebagai salah seorang musisi blues terbaik di dunia.

BB King meninggal dunia pada usia 91 tahun di Las Vegas. Baru-baru ini dia dirawat di rumah sakit karena menderita suatu penyakit yang disebutkan terkait diabetes, demikian dikatakan oleh pengacaranya.

Ucapan belasungkawa antara lain disampaikan oleh Ringo Starr, mantan drummer The Beatles. "Semoga Tuhan menyertaimu BB King, damai dan cinta untuk keluarganya."
Adapun Lenny Kravitz mengatakan banyak orang bisa memainkan beragam nada tetapi tidak akan pernah bisa memainkan nada-nada seperti yang dimainkan oleh BB King.
Pemain gitar Bon Jovi, Richie Sambora menambahkan, "Teman saya dan legenda BB King meninggal dunia. Saya begitu sedih."

King menerima penghargaan Grammy yang ke-15 pada 2009 untuk albumnya One Kind Favor.

Gaya permainan gitarnya mempengaruhi generasi pemain gitar. Semasa kecilnya, ia terbiasa bekerja di ladang kapas di Negara Bagian Mississippi, Amerika Serikat, tempat kelahirannya.
King kemudian bekerja sebagai musisi jalanan pada 1940-an sebelum melejit menjadi bintang.

Selama kariernya, ia mengggelar ribuan konser di dunia dan tetap tampil prima ketika usianya menginjak 80 tahun.Bagaimanapun jadwal turnya sempat terganggu karena BB King mengunjungi 15 anaknya. (BBC Indonesia)

Saturday, May 9, 2015

Misi Seni Budaya Indonesia Di Spanyol



08 Mei 2015
Misi budaya Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia di Spanyol. Misi budaya SMP Al-Ikhlas Cipete, Jakarta berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi tarian “Sea Sun Festival: Fiestalonia International Art Festival and Contest” yang diselenggarakan di kota Lloret de Mar (3-8/5)

Dalam kompetisi tersebut, misi budaya SMP Al-Ikhlas "Tralix" (Tari Tradisional Al-Ikhlas) yang dilatih oleh pimpinan Sanggar Tari Tradisional Gema Citra Nusantara, Sdr. Mira Marina Arismunandar, berhasil menyisihkan peserta lainnya yang berasal dari 7 (tujuh) negara seperti Kazakhstan, Azerbaiyan, Irlandia,  Iran, Spanyol, Georgia dan Uzbekistan.

Pada penampilan di acara festival tersebut, misi budaya SMP Al-Ikhlas  membawakan kombinasi Tari Gending Sriwijaya, Tari Saman dan Tari Piring Aceh serta permainan alat musik angklung. Penampilan mereka mendapat sambutan meriah dan apresiasi dari para penonton serta para juri yang hadir.

Para penonton juga menyampaikan ketertarikannya terhadap tarian dan kostum yang meriah khas Aceh yang dikenakan oleh para penari. Untuk berpartisipasi dalam kompetisi ini mereka telah mempersiapkan diri dengan latihan keras selama 3 (tiga) bulan.

Penampilan misi budaya SMP Al-Ikhlas disaksikan oleh ratusan penonton dari berbagai negara yang setiap tahunnya berdatangan untuk menyaksikan berbagai festival serta kompetisi seni dan budaya di kota Lloret de Mar.

Dalam misi budayanya ini, SMP Al-Ikhlas juga diberikan kesempatan dari pihak panitia untuk berwisata dan mengenal beberapa kota di sekitar Lloret de Mar seperti Girona, Barcelona dan Figueres.

Melalui prestasi misi-misi budaya dari Indonesia semacam ini diharapkan dapat membantu meningkatkan citra positif Indonesia di Spanyol dan pada jangka panjang meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan Spanyol ke Indonesia. (Sumber: KBRI Madrid/Infomed)

Monday, March 9, 2015

40 Negara meraih beasiswa seni budaya Indonesia

Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi secara resmi membuka penyelenggaraan Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) 2015 yang melibatkan 70 peserta dari 40 negara termasuk Indonesia yang bertempat di Kementerian Luar Negeri Jakarta, Senin 8 Maret 2015.

Dalam pidatonya Menlu Retno menyatakan rasa bangga menyambut para peserta Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2015. "Ini merupakan kehormatan bagi saya untuk menyambut anda semua di Indonesia, khususnya para peserta Program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia 2015," kata Menlu Retno .

Program BSBI 2015 itu diikuti 70 peserta dari 40 negara, antara lain Tiongkok, Ceko, Fiji Austria, Brunei Darussalam, Kamboja, Kanada, , Kroasia, Prancis, Jerman, Yunani, Hungaria, India, Myanmanr, Selandia Baru,Kazakstan, Laos, Malaysia, Papua Nugini, Mongolia, Rusia, Polandia, Spanyol, Kepulauan Solomon, Korea Selatan, Vietnam, Suriname, Thailand, Belanda, Filipina, Amerika Serikat, Timor Leste, Turki, Vanuatu, Spanyol.

Dari 70 peserta program BSBI itu, enam diantaranya berasal dari Indonesia. Para peserta dari Indonesia akan bertugas mendampingi para peserta dari negara lain.

Menurut Menlu, Program BSBI yang dimulai 13 tahun lalu itu merupakan alat bagi Indonesia untuk menggapai generasi muda di seluruh dunia.

"Mempelajari bahasa lain dan menghormati budaya lain di suatu negara bukan hanya soal mendapatkan pengalaman. Bahkan, itu berarti anda sedang membangun jembatan pemahaman, perdamaian dan kemakmuran bagi dunia," ujar dia.

"Kita memerlukan jembatan yang solid untuk menghadapi tantangan global dan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya," lanjut Retno.

Menurut Direktur Diplomasi Publik Kemlu Al Busyra Basnur, para peserta Program BSBI akan mempelajari bahasa, kesenian, dan kebudayaan Indonesia dengan mengunjungi enam kota yaitu Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Makassar, Bali.

"Khusus di Yogyakarta, mereka akan mempelajari tentang Indonesia secara akademis dari sisi kajian politik, ekonomi, sosial dan budaya. Di lima kota lain, mereka akan belajar seni budaya Indonesia, seperti tarian tradisional, cara memainkan alat musik tradisional, dan kearifan lokal," jelas dia.

Program BSBI itu akan berlangsung selama tiga bulan dan ditutup dengan sebuah pertunjukan kolosal bernama Indonesia Channel, yang akan diperankan oleh para peserta.

"Pertunjukan itu merupakan media di mana kita melihat kesuksean peserta mendapat pengalaman di Indonesia. Rencananya untuk tahun ini Indonesia Channel akan dilakukan di Bandung pada 15 Juni," ungkap dia.

Al Busyra menilai Program BSBI bermanfaat untuk mempromosikan kesenian, budaya, serta pariwisata Indonesia ke dunia internasional.

"Kami melihat program ini sangat bermanfaat. Para peserta ini setelah kembali ke negaranya masing-masing, mereka biasanya berperan aktif mempromosikan tentang Indonesia," ujar dia.
(sumber: antaranews.com)

Friday, December 26, 2014

Degung: The Sundanese music dance ensemble

Sundanese dances is a dance tradition that is a part of ritual, artistic expression as well as entertainment and social conduct among the Sundanese people of West Java, Indonesia. Sundanese dance is usually cheerful, dynamic and expressive, with flowing movements in-sync with the beat of kendang accompanied with Gamelan degung music ensemble.

In Sundanese culture the term ngibing means "to dance", but it is indeed performed in particular Sundanese style, usually performed between male and female couple. In West Java, all it takes is a woman’s voice and a drum beat to make a man get up and dance. Every men there breach ordinary standards of decorum and succumb to the rhythm at village ceremonies or weddings. The music the men dance to varies from traditional gong degung ensembles to the contemporary pop known as dangdut, but they consistently dance with great enthusiasm. Henry Spiller in "Erotic Triangles" draws on decades of ethnographic research to explore the reasons behind this phenomenon, arguing that Sundanese men use dance to explore and enact contradictions in their gender identities. Framing the three crucial elements of Sundanese dance—the female entertainer, the drumming, and men’s sense of freedom—as a triangle.[1]

Among Sundanese dances perhaps Jaipongan is the most popular styles and form. Jaipongan dance could be performed solo by a female dancer, in group of female dancers, as couple between professional female and male dancers, or as couple when professional female dancers invite male audience to dance with them. Other Sundanese dances include Topeng Sunda, Kandagan, Merak, Sisingaan, and Badawang dances. The Merak dance (peafowl dance) is a dance performed by female dancers inspired by the movements of a peafowl and its feathers blended with the classical movements of Sundanese dance, it symbolises the beauty of nature. Some dances might incorporated Pencak Silat Sundanese style movements. Because Sundanese culture are commonly developed among rice farming villages in mountainous Priangan, some dance rituals such as Buyung dance are involved in Seren Taun rice harvest festival, accompanied with angklung music. Rampak kendang on the other hand are actually synchronized kendang performances involving some coordinated dance movements. The Sundanese style of Reog dance is different than those of East Javanese Reog Ponorogo. The Reog Sunda performance combines comedy, joke, music, and funny comical movements and dances of the performers.[2]

Unlike its Javanese counterpart, there is no clear distinction based on social hierarchy between court dances and the commoners' dances in Sundanese tradition. Most of Sundanese dance traditions and its culture are developed by common people in villages, the fact partly contributed to Sundanese history; the absence of Sundanese court culture (keraton) since the fall of Sunda Pajajaran kingdom in the late 16th century. Sundanese people however are familiar with aristocratic culture of the menak (nobles) in Priangan region, especially in Cianjur, Bandung, Sumedang and Ciamis. The musical art such as Kacapi suling demonstrate the subtlety of aristocratic Sundanese arts.

In the 17th century the Sundanese Priangan region was held under Javanese Mataram kingdom, as the result the Sundanese culture were exposed to Kejawen (Javanese culture) influences, such as wayang and Javanese dance styles. Wayang Golek although performed in Sundanese language, style and themes, it bears the same frame of references with Javanese Wayang Kulit tradition, that often took episodes from Ramayana or Mahabharata. The courtly Sundanese dances were developed by Sundanese nobles such as Keurseus dance, Badaya Sunda, Sarimpi Kasumedangan, Ratu Graeni, Dewi and Wayang Orang dance in Sundanese Sandiwara style, all demonstrate the influences of Javanese Mataram courtly culture.

Monday, December 22, 2014

Gema Gamelan di Amerika Serikat

Keindahan dan suara merdu gamelan tradisional Indonesia yang dipertunjukan di kancah internasional, sering kali mengundang decak kagum dari para penontonnya. Inilah yang selalu terjadi ketika alunan gamelan terdengar di berbagai festival kebudayaan di Amerika.

Gamelatron, proyek ciptaan senimas AS, Aaron Taylor Kuffner (foto/dok: Aaron Taylor Kuffner)“Suara gamelan sangat menarik,” ujar Fransiska, salah satu penonton asal Jerman di acara festival musik "Performing Indonesia" yang pernah diadakan di bilangan Smithsonian, Washington, D.C. Fransiska sendiri adalah anggota dari kelompok Cornell Gamelan Ensemble di Ithaca, New York. 
Penonton kembali dibuat terpesona ketika melihat banyak warga Amerika yang dengan bangga juga ikut tampil dan memainkan gamelan sambil mengenakan pakaian tradisional Indonesia.

Terlepas dari pertunjukan, alunan gamelan yang lembut juga telah berhasil menarik perhatian sutradara film Hollywood, Peter Jackson, untuk mengikutsertakan instrumen gamelan dari kelompok gamelan Padhang Moncar di Selandia Baru sebagai bagian dari ilustrasi musik film the Hobbit: the Desolation of Smaug.

Sebenarnya apa yang membuat gamelan menjadi semakin populer keberadaannya di Amerika?

Gamelan dan Dunia Akademik AS
Emiko Saraswati Susilo, Direktur dan Guest Dance Director kelompok Gamelan Sekar Jaya di Berkeley
 
Semua ini berawal pada tahun 1958, ketika ahli musik asal Amerika, mendiang Mantle Hood, membuat program musik gamelan Jawa dan Bali di University of California at Los Angeles (UCLA), setelah sebelumnya mempelajari gamelan di Indonesia. Tidak lama setelah itu, Mantle Hood yang juga adalah pendiri dari Institut Etnomusikologi di UCLA mengundang beberapa pengajar gamelan dari Indonesia, salah satunya Hardja Susilo dari Yogyakarta yang sekarang menjadi guru gamelan di Hawaii.

“Banyak orang etnomusikologi yang tertarik dengan gamelan Jawa, Bali, dan dengan budaya Indonesia. Jadi ada banyak hubungan dengan dunia akademik juga. Jadi banyak gamelan yang dimiliki oleh universitas-universitas di Amerika Serikat,” cerita Emiko Saraswati Susilo (41), puteri dari Hardja Susilo yang juga adalah Direktur dan Guest Dance Director dari kelompok Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California, kepada VOA Washington, D.C. baru-baru ini.
Sejak itu berbagai universitas di AS, seperti Wesleyan, University of California, Berkeley, Cornell, Yale, dan Harvard mulai mengikuti jejak UCLA dengan mengadakan kelas gamelan di kampusnya. Kepemilikan instrumen gamelan di kampus juga dipandang sebagai suatu hal yang prestisius. “Gamelan menjadi satu tanda atau simbol eksklusif,” kata Andrew Clay McGraw (39), dosen jurusan Etnomusikologi di University of Richmond, Virginia, di mana tersedia mata kuliah gamelan yang juga diajarnya.

Para mahasiswa dari berbagai jurusan yang mengambil kelas gamelan rata-rata adalah orang Amerika yang jatuh cinta seketika setelah mendengar suara alunan gamelan.
“Kalau orang Amerika melihat gamelan itu cool sekali dan ini baru sekali untuk dia, walaupun di Indonesia sudah 1000 tahun ada gamelan, sampai anak-anak sekarang sudah bosan, tapi bagi orang Amerika ini adalah sesuatu yang baru,” lanjut Andrew yang juga adalah pendiri dari kelompok gamelan Bali, Raga kusuma, di Richmond, Virginia ini.

Kebersamaan Dalam Gamelan
Cinta pada pandangan pertama terhadap gamelan juga didukung oleh kekaguman orang Amerika akan rasa kebersamaan yang tercipta di antara para pemain gamelan. “Kalau kita di Amerika, kalau kuliah sudah ‘pergi’ dari rumah. Setelah itu kerja, pergi lagi. Kadang-kadang orang tidak punya ikatan keluarga atau ikatan tetangga yang seperti kita punya di Indonesia, tapi itu justru sangat kuat di dalam dunia gamelan,” kata Emiko. “Jadi saya rasa itu juga menjawab suatu kerinduan yang ada di dalam hati masyarakat di Amerika untuk bisa terikat di dalam satu komunitas,” lanjut wanita keturunan Yogyakarta dan Jepang ini kepada VOA.
Gamelatron, proyek ciptaan senimas AS, Aaron Taylor Kuffner (foto/dok: Aaron Taylor Kuffner)
 
Kebersamaan dalam gamelan juga dirasakan oleh seniman AS, Aaron Taylor Kuffner (39), pencipta sebuah proyek gamelan ‘Gamelatron’ yang menggabungkan alat musik gamelan dengan teknologi robotik, sehingga gamelan tersebut bisa bermain dengan sendirinya melalui arahan komputer. “Kebudayaan di Amerika berbeda dengan di Indonesia. Di Amerika sangat individual, jadi grup gamelan penting untuk kebudayaan di Amerika,” ujar pria yang menciptakan proyek ‘Gamelatron’ sebagai inovasinya dalam mengembangkan gamelan.   
Aaron yang pernah belajar gamelan di Indonesia selama tiga tahun, mengakui bahwa gamelan bisa menjadi alat pemersatu di era teknologi serba canggih yang sering membuat orang mengisolasi diri dengan smartphone dan Internet, “Grup gamelan adalah kesempatan untuk melakukan kumpul bersama dan aktivitas bersama,” lanjutnya.

Beragam Komunitas Gamelan di AS
Para mahasiswa yang pernah mengikuti mata kuliah gamelan di universitas-universitas Amerika inilah yang kemudian membantu penyebaran dan pembentukan kelompok gamelan, yang sekarang jumlahnya hampir mencapai 200 kelompok yang tersebar di seluruh negara bagian di AS. Jika memang tertarik dengan gamelan, biasanya setelah lulus, para mahasiswa itu kemudian pergi ke Indonesia untuk mempelajari gamelan lebih lanjut.

Gamelan Raga Kusuma yang dibentuk oleh Andrew McGraw pada tahun 2007 di Richmond, Virginia ini adalah salah satunya. Andrew yang memiliki pengalaman belajar gamelan di Bali, menjadi pengajar utama di kelompok gamelan Bali yang beranggotakan sekitar 30 orang, mulai dari umur 8 hingga 70 tahun.

Beragam kolaborasi seringkali dilakukan oleh Gamelan Raga Kusuma, salah satunya dengan komunitas Banjar Bali, yaitu komunitas masyarakat Bali di daerah Washington, D.C.


Kelompok Banjar Bali di Washington, D.C. (foto/dok: Banjar Bali
Kelompok Banjar Bali di Washington, D.C. (foto/dok: Banjar Bali“Ketika ada kegiatan yang berhubungan dengan pementasan tradisional kebudayaan Bali, seperti menari, banyak warga dari Banjar Bali, salah satunya saya, yang diundang. Jadi misalnya seperti dari Richmond dengan Gamelan Raga Kusuma, sering sekali mengadakan pentas, kita jadi sering ikut di sana,” papar Ika Inggas, ketua dari komunitas Banjar Bali.

Beralih ke Berkeley, California, kelompok Gamelan Sekar Jaya yang sudah berdiri sejak 35 tahun yang lalu adalah kelompok gamelan tertua di AS. Kelompok gamelan yang didirikan oleh I Wayan Suweca bersama warga Amerika, Rachel Cooper dan Michael Tenzer ini banyak bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dalam mata kuliah gamelan dan juga dalam mendatangkan guru gamelan dari Bali.

Sampai hari ini, anggota Sekar Jaya sudah mencapai sekitar 60 orang baik Amerika maupun Indonesia. Melalui Sekar Jaya, orang-orang Amerika dan juga Indonesia yang tinggal di California, bisa belajar tentang berbagai kesenian Bali termasuk gamelan dan tariannya dengan instruktur yang langsung didatangkan dari Bali dan juga instruktur asal Amerika. “Ada unsur belajarnya, unsur pertunjukan dan pertukaran budaya. Jadi pentas sambil belajar tentang kesenian tentang budaya Bali, Indonesia,” jelas Emiko yang bergabung sebagai murid dengan Sekar Jaya pada tahun 1991, saat masih berusia 18 tahun.

Selain itu, ada juga kelompok gamelan di Amerika yang awalnya didirikan di Indonesia, seperti Gamelan Wrhatnala USA di Washington, D.C, yang beranggotakan sekitar 50 orang baik Amerika maupun Indonesia.

Project Manager Gamelan Wrhatnala USA, Mourien Supartha mengatakan, biasanya orang-orang Amerika yang akhirnya bergabung di kelompok gamelannya tertarik setelah melihat pertunjukan mereka, “Kadang-kadang setelah performance apalagi kalau pakai live gamelan, kita suka ada sedikit workshop di akhir pertunjukan. Kita kasih kesempatan kepada penonton untuk mencoba main gamelan,” ujar Mourien kepada VOA. Mourien berharap untuk ke depannya, Gamelan Wrhatnala USA bisa berkolaborasi dengan kelompok gamelan yang lain di Amerika.

Gamelan Goes to School
Gamelan Sumunar arahan Joko Sutrisno di St. Paul, Minnesota (foto/dok: Joko Sutrisno)
Gamelan Sumunar arahan Joko Sutrisno di St. Paul, Minnesota (foto/dok: Joko Sutrisno)Tidak hanya di universitas-universitas Amerika, tetapi di kota St. Paul,  Minnesota, kelompok gamelan nirlaba, Sumunar, yang dibina oleh Joko Sutrisno, telah membawa program gamelan ke sekolah-sekolah Amerika. “Selain di universitas, program kita juga dari TK sampai SMA. Di Minnesota sendiri sekarang gamelan Jawa ada lebih dari 12 set,” ujar pria yang juga mengajar gamelan di University of Minnesota dan beberapa universitas lain di Amerika.
“Kita punya program namanya School Residencies. Jadi kita bawa alat satu truk ke sekolah, kita di sana mengajar satu sampai dua minggu. Satu hari belajar 1 jam. Setelah 10 kali pertemuan, kita adakan pertunjukan. Mereka bisa main, tidak melihat notasi, dan confident,” lanjutnya.
Usaha dan kerja keras lulusan Institut Seni Indonesia, Solo, ini mendapat sambutan yang sangat positif. “Pendapat orang tua dan guru mereka ‘Amazing! How can we do that in 10 lessons?’” ujar pria yang sudah 20 tahun menetap di Amerika ini. 
  
Melestarikan Gamelan di Amerika
Berbagai cara terus dilakukan oleh para artis dan seniman gamelan di Amerika untuk terus mempromosikan kebudayaan Indonesia melalui gamelan di Amerika. “Saya punya impian untuk membuat pagelaran seni dengan seluruh sanggar-sanggar yang ada di Amerika sini,” ujar Mourien. Dari situ tentunya Indonesia beserta kebudayaannya akan semakin dikenal. “Saya sangat senang orang semakin mengenal Indonesia,” kata Emiko yang juga adalah pendiri sanggar Cudamani di Ubud, Bali. “Saya sendiri, mungkin karena saya seniman merasa sangat bangga dengan seni dan budaya yang ada di Indonesia. Bagi saya itu adalah salah satu kekuatan yang paling penting yang kita punya di Indonesia. Jadi kalau orang bisa mengenal Indonesia melalui kesenian saya sangat bahagia sekali,” lanjutnya menutup wawancara dengan VOA. (sumber: VOA)

Friday, December 19, 2014

Rampak gendang, Angklung membahawa di gurun pasir Aljazair

16 Desember 2014
Dalam rangka  HUT Pertamina ke-57, Tim Kesenian KBRI Alger mengisi pentas seni Indonesia di ladang minyak Pertamina di Hassi Messaoud dan di Menzel Ledjmat Nord /MLN (Gurun Sahara Aljazair) pada tanggal 8 - 10 Desember 2014. Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Alger, Ida Susanty Munir dan Direktur Regional Copal Algeria (Pertamina) Eko Rukmono menghadiri acara beserta para tamu undangan.

Penampilan pertama di Base Camp Hassi Messaoud dihadiri hampir seratus orang undangan yang terdiri dari mitra kerja sama di bidang migas dan pekerja dari berbagai negara. Sementara pada pertunjukan kedua di Base Camp MLN dihadiri hampir dua ratus  orang undangan.  Dalam kedua kesempatan tersebut tim kesenian KBRI Alger menampilkan Rampak Kendang dan Angklung.

Meski suhu udara di bawah 10° C, penampilan tim kesenian KBRI Alger dengan   bersemangat membawakan berbagai lagu daerah dari Indonesia seperti, Tanah Airku, Gundul-Gundul Pacul, Burung Kakatua, Apuse, Tokecang dan Rek Ayo Rek dengan  rampak gendang dan angklung yang saling bersahutan dan melodius.


Para undangan mendapat kesempatan untuk memainkan Angklung dipandu oleh Tim Kesenian KBRI Alger. Kegiatan tersebut mendapatkan sambutan meriah dari para penonton dengan banyaknya peminat yang mencoba memainkan alat musik khas Indonesia dari Jawa Barat tersebut.

Penampilan seni tim KBRI Alger telah meramaikan acara HUT Pertamina dengan penuh kegembiraan dan mendapatkan tanggapan yang sangat antusias dari para tamu undangan. Acara quiz juga menarik perhatian pengunjung dengan hadiah cinderamata kepada peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar.  Kegiatan memeriahkan HUT Pertamina tersebut juga dilengkapi dengan suguhan makanan internasional dan dilengkapi makanan khas kuliner Indonesia. (Sumber KBRI Alger/Dit.Infomed/QZN).