Bab 7 – Hantu yang Bernapas
Enam bulan setelah malam di kapal Ocean Queen.
Singapura, kawasan Marina Bay Sands. Malam hujan deras lagi—seperti Jakarta yang tak pernah benar-benar pergi. Di salah satu suite penthouse tertinggi, Dito Pratama berdiri di balkon kaca, memandang lampu kota yang berkilauan di bawah sana. Tangannya memegang gelas whiskey, tapi isinya hampir tak tersentuh. Matanya kosong, seperti orang yang sudah mati di dalam.
Sejak malam itu, Dito tak lagi tidur nyenyak. Setiap kali mata terpejam, dia melihat wajah Rayhan—kakak tertuanya yang tertembak di gudang Cakung. Tapi yang lebih menyiksa: dia melihat Arga berjalan pergi di dek kapal, meninggalkannya hidup tapi hancur.
Dia pikir semuanya sudah selesai. Rekening offshore aman di Cayman. Bisnis dengan kartel Lampung berjalan lancar. Nadia mati, Rendra mati, Arga... hilang entah ke mana. Tapi kekosongan itu lebih buruk daripada kematian.
Ponsel di meja bergetar. Nomor tak dikenal. Dito mengangkat dengan tangan gemetar.
Suara di seberang rendah, serak, familiar sampai membuat bulu kuduknya berdiri.
“Dito.”
Dito menjatuhkan gelas. Whiskey tumpah ke karpet putih.
“Ka... Kak Rayhan?”
Tawa kecil terdengar—tawa yang dulu sering dia dengar saat mereka kecil, saat Rayhan mengajarinya naik sepeda.
“Kau terdengar terkejut, adik. Padahal kau yang paling pintar di antara kita.”
Dito mundur sampai punggungnya menyentuh pagar balkon. “Kau... kau mati. Aku lihat sendiri. CCTV... peluru...”
“Peluru memang mengenai. Tapi bukan yang fatal. Dokter bayaran Pak Tua yang menangani. Dia menyembunyikanku selama berbulan-bulan. Pak Tua ingin aku ‘mati’ dulu—untuk membersihkan rumah dari pengkhianat. Kau dan Rendra termasuk yang dia curigai.”
Dito terduduk di lantai. Air mata mengalir tanpa suara.
“Kenapa... kenapa kau biarkan aku percaya kau mati? Kenapa kau biarkan aku...”
“Karena aku ingin melihat seberapa jauh kau akan pergi, To. Dan kau pergi terlalu jauh.”
Hening panjang.
“Lalu sekarang?” tanya Dito pelan. “Kau mau bunuh aku?”
“Bukan aku yang akan memutuskan itu.”
Pintu suite terbuka pelan tanpa ketukan. Dito menoleh.
Di ambang pintu berdiri dua sosok.
Pertama: Arga. Jaket kulit hitamnya masih sama, tapi sekarang ada bekas luka baru di leher dan tangan. Matanya dingin, tapi tak lagi penuh amarah—hanya kelelahan.
Kedua: Rayhan Pratama. Rambutnya lebih pendek, wajahnya lebih kurus, ada bekas luka tembak di bahu kanan yang terlihat dari balik kemeja putih terbuka. Dia berjalan pincang sedikit, tapi auranya masih sama—kakak tertua yang selalu mengendalikan segalanya.
Rayhan melangkah masuk, diikuti Arga yang menutup pintu di belakangnya.
Dito tak bisa bicara. Dia hanya menatap kakak tertuanya yang “kembali dari kubur”.
Rayhan berhenti di depan Dito, menatap ke bawah.
“Kau pikir kekuasaan itu milikmu, To? Kau pikir dengan membiarkan aku mati, kau bisa ambil alih?”
Dito menggeleng lemah. “Aku... aku salah. Aku cuma ingin...”
“Apa yang kau inginkan tak penting lagi,” potong Rayhan. Suaranya tenang, tapi ada nada akhir di dalamnya. “Kau sudah membunuh kepercayaan keluarga. Itu lebih buruk daripada membunuh tubuh.”
Arga berdiri di samping Rayhan, tangannya di saku—mungkin memegang karambit yang sama.
Rayhan melanjutkan, “Pak Tua sudah tahu semuanya. Dia yang suruh aku kembali. Bukan untuk balas dendam... tapi untuk membersihkan. Serigala Hitam tak bisa dipimpin oleh pengkhianat.”
Dito menunduk. “Bunuh aku saja. Aku pantas.”
Rayhan berlutut di depan adiknya, mengangkat dagu Dito dengan tangan yang dingin.
“Aku tidak akan membunuhmu, To. Karena darah keluarga tak pernah kering—tapi bisa dicabut haknya.”
Dia menoleh ke Arga.
“Arga. Kau yang putuskan nasibnya.”
Arga diam lama. Matanya menatap Dito—bukan sebagai musuh, tapi sebagai adik yang pernah dia lindungi.
Akhirnya Arga bicara, suaranya pelan tapi tegas.
“Kau hidup. Tapi kau keluar dari Serigala Hitam. Selamanya. Semua rekeningmu dibekukan. Identitasmu dihapus. Kau mulai dari nol—tanpa nama Pratama, tanpa apa pun. Jika kau coba kembali... aku sendiri yang akan mengakhiri.”
Dito mengangguk lemah. Air matanya jatuh ke lantai.
Rayhan berdiri, menepuk bahu Arga.
“Kita pulang, Ga. Jakarta menunggu.”
Mereka berdua berbalik menuju pintu.
Di ambang pintu, Rayhan berhenti, tanpa menoleh.
“To... suatu hari, mungkin kau bisa menebus. Tapi bukan hari ini.”
Pintu tertutup.
Dito sendirian di penthouse mewah yang tiba-tiba terasa seperti penjara.
Di luar, hujan masih deras.
Di dasar hatinya, dia tahu: abu di balik emas bukan miliknya lagi.
Tapi setidaknya, kakak-kakaknya masih bernapas.
**Bab Akhir – Darah yang Tak Kering**
Jakarta, satu tahun kemudian.
Pemakaman Tanah Kusir lagi. Batu nisan Rayhan sudah dilepas. Di tempat yang sama, sekarang tertulis nama baru—bukan nama sungguhan, tapi nama samaran yang dipakai Pak Tua untuk “mengubur” masa lalu.
Rayhan, Arga, dan Pak Tua berdiri di depan pusara kosong itu.
Pak Tua menghela napas.
“Serigala Hitam aman sekarang. Tapi keluarga... keluarga butuh waktu.”
Arga mengangguk. “Dito?”
Rayhan menatap ke langit mendung.
“Dia di suatu tempat di Jawa Timur. Bekerja di pasar ikan. Hidup biasa. Tak ada kontak. Tapi... dia hidup.”
Arga memasukkan tangan ke saku jaket. Di dalamnya ada foto lama tiga bersaudara kecil—sekarang ditambah satu foto baru: Dito sendirian di pasar, memandang ke kamera dari kejauhan, seperti seseorang yang diamati tapi tak tahu.
“Darah keluarga tak pernah kering,” gumam Arga.
Rayhan tersenyum tipis—senyum pertama setelah sekian lama.
“Tapi kadang, darah itu harus ditumpahkan dulu supaya bisa mengalir lagi.”
Mereka bertiga berjalan pergi, meninggalkan pusara kosong di bawah hujan yang mulai reda.
Di kejauhan, angin membawa suara samar—seperti tawa anak kecil di bawah pohon mangga.
**TAMAT**
😈🔥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar