Selasa, 10 Maret 2026

Kultivasi 1000 Tahun Secara Rahasia


Mengocok Dadu Selama Sebelas Tahun, Keberuntungan Tertinggi dalam Sekejap
【Usia: 11/65】
【Ras: Manusia】
【Kultivasi: Tidak ada】
【Teknik Kultivasi: Tidak ada】
【Mantra: Tidak ada】
【Kemampuan Ilahi: Tidak ada】
【Artefak Magis: Tidak ada】
【Bakat Akar Spiritual: Sangat Buruk (Klik untuk mengocok dadu)】

【Keberuntungan Bawaan sebagai berikut (Klik untuk mengocok dadu)】

【Akar Ganda Tanah dan Kayu: Bakat Akar Spiritual Tanah dan Kayu meningkat】
【Anak Roh Dao Tombak: Bakat Dao Tombak meningkat, fisik diperkuat】

【Klik untuk memulai kehidupan permainan】

Menatap daftar atribut yang melayang di hadapannya, bocah sebelas tahun bernama Arya Wira hampir saja putus asa.

Bakat Akar Spiritual dan Keberuntungan Bawaan dapat diubah secara acak setiap hari dengan cara mengocok dadu. Namun masing-masing hanya bisa diacak satu kali dalam sehari, dan kesempatan itu akan diperbarui setiap pagi tepat pukul tujuh.

Arya Wira telah mengocok dadu itu sejak hari ia dilahirkan.

Namun setelah sebelas tahun penuh, ia belum pernah sekalipun mendapatkan bakat tingkat tertinggi ataupun keberuntungan luar biasa.

“Apakah aku harus puas dengan ini saja?”

Pikiran tersebut muncul di benaknya.

Tidak!

Setelah akhirnya terlahir kembali di dunia yang dipenuhi keabadian, roh, dan makhluk gaib, bagaimana mungkin ia berkultivasi hanya sebagai manusia biasa?

Arya Wira ingin menjadi tokoh utama dalam kisah kekuatan legendaris!

Ia mengangkat tangannya dan mengetuk daftar atribut di hadapannya.

Bakat Akar Spiritual berubah!

【Bakat Akar Spiritual: Tidak ada】

Wajah muda Arya Wira langsung menggelap.

Ia menekan lagi.

【Bintang Kesunyian Takdir Surga: Membawa kesialan bagi orang tua, pasangan, dan sahabat; ditakdirkan hidup dalam kesendirian; usia bertambah seratus tahun】

“Sial!”

Bahkan Bintang Kesunyian Takdir Surga bisa muncul!

Siapa yang menginginkan hidup sendirian seperti itu?

Dalam luapan emosi, Arya Wira menjatuhkan dirinya ke rumput lalu berguling dan menendang-nendang tanah.

Selama sebelas tahun penuh, ia tidak pernah mendapatkan Akar Spiritual yang mengguncang langit ataupun keberuntungan luar biasa.

Tidak!

Aku harus terus mengocok!

Aku tidak percaya nasibku seburuk ini!

Tubuh Arya Wira gemetar karena kesal.

Setelah berguling-guling selama setengah jam, akhirnya ia duduk kembali.

Arya Wira adalah seseorang yang bereinkarnasi.

Di kehidupan sebelumnya ia berasal dari Bumi abad ke-21.

Ketika masih muda, ia didiagnosis mengidap kanker stadium akhir. Tidak ingin menjalani perawatan yang menyakitkan, ia pulang ke rumah dan memutuskan menunggu ajal datang.

Malam itu, untuk mengalihkan pikirannya, ia mencari sebuah permainan kultivasi lama yang pernah ia mainkan semasa kecil.

Ia bermain sepanjang malam dengan penuh semangat.

Ketika fajar menyingsing, tubuhnya terasa sangat lelah.

Dan kemudian… kesadarannya pun lenyap.

Saat ia membuka mata lagi, ia telah terlahir kembali di dunia yang menyerupai zaman kuno, bahkan dilahirkan di dalam sebuah sekte kultivasi.

Sekte itu bernama Sekte Yujing, sebuah sekte jalur lurus yang berada di wilayah Dinasti Yan Agung.

Pada hari ketika ia mengetahui dirinya mengidap kanker, Arya Wira merasa sangat takut.

Saat itulah untuk pertama kalinya ia benar-benar menyadari betapa berharganya kehidupan.

Namun di kehidupan ini, ia justru memiliki kesempatan untuk berkultivasi.

Ia begitu gembira.

Ia harus berkultivasi!

Ia ingin hidup lebih lama daripada siapa pun!

Namun ia tidak ingin berkultivasi hanya sebagai manusia biasa.

Sejak lahir, kehidupan Arya Wira sebenarnya tidak terlalu berat.

Orang tuanya adalah pelayan milik seorang alkemis dari Sekte Luar Sekte Yujing, seorang pria tua bernama Tetua Besi.

Setiap hari mereka menanam dan merawat berbagai tanaman obat untuknya.

Para alkemis memiliki status yang sangat tinggi.

Di wilayah Sekte Luar, hampir tidak ada orang yang berani menyinggung Tetua Besi.

Ia memiliki puluhan pelayan di bawah perintahnya, dan semuanya adalah manusia biasa.

Bahkan jika para pelayan itu memiliki Akar Spiritual, Tetua Besi tetap tidak mengizinkan mereka berkultivasi.

Kemungkinan besar ia takut mereka akan mencuri tanaman obat miliknya.

Tanaman obat itu sangat bermanfaat bagi para kultivator.

Namun bagi manusia biasa, tanaman tersebut adalah racun mematikan.

Ketika Arya Wira berusia enam tahun, kedua orang tuanya melarikan diri dan meninggalkannya sendirian di Kebun Obat Tetua Besi.

Arya Wira bisa memahami alasan mereka.

Melarikan diri sambil membawa seorang anak tentu akan sangat merepotkan.

Tetua Besi sendiri tidak mempermasalahkan hal itu.

Sebaliknya, ia menyuruh seseorang membawa Arya Wira untuk mulai membantu pekerjaan di kebun obat.

Seiring berjalannya waktu, Arya Wira menjadi sangat familiar dengan setiap pohon, bunga, dan rumput di kebun tersebut.

Karena Tetua Besi tidak pernah mempersulitnya, Arya Wira terus mengocok Keberuntungan Bawaan setiap hari.

Bagaimanapun juga, ia saat ini hanyalah manusia biasa.

Tidak ada salahnya menunggu sedikit lebih lama.

“Sigh… aku akan terus mengocok dadu. Jika sampai umur tiga puluh aku masih belum mendapatkan keberuntungan yang menentang langit, maka aku akan menyerah dan berkultivasi sebagai manusia biasa.”

Arya Wira bergumam dalam hati.

Pelayan tertua di kebun obat itu sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun.

Namanya Pak Wiraatma.

Ia dipilih oleh Tetua Besi ketika masih remaja, dan sekarang menjadi pemimpin para pelayan.

Semua orang mengikuti perintahnya.

Arya Wira bangkit berdiri, kembali ke kebun obat, lalu mulai menyiram tanaman serta membersihkan daun-daun kering.

Kebun obat itu sangat luas.

Ukurannya hampir sebesar lapangan sepak bola.

Setiap pelayan bekerja dengan sangat hati-hati.

Jika mereka tidak sengaja merusak tanaman, Tetua Besi pasti akan sangat marah.

Beberapa tanaman bahkan memiliki racun yang sangat kuat.

Tetua Besi baru saja pergi keluar bulan lalu.

Diperkirakan ia akan kembali dalam dua atau tiga tahun.

Bagi seorang kultivator, dua atau tiga tahun bukanlah waktu yang lama.

Di kebun obat ini, Arya Wira adalah anak yang pendiam.

Ia hampir tidak memiliki teman.

Orang yang paling sering ia ajak bicara hanyalah Pak Wiraatma.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Arya Wira biasanya kembali ke kamarnya lalu melakukan push-up dan latihan fisik.

Keesokan paginya.

Setelah mencuci muka dan merapikan diri, Arya Wira duduk di atas tempat tidur papan kayunya.

Ia menunggu.

Menunggu hingga saat daftar atributnya diperbarui kembali.

Begitu waktunya tiba, mata Arya Wira langsung berbinar.

Rasanya seperti melakukan undian keberuntungan.

Inilah hal yang paling ia nantikan setiap hari.

Ia menggosok kedua tangannya.

Pertama, ia mengocok Akar Spiritual.

【Bakat Akar Spiritual: Tidak ada】

“Sial!”

Sungguh sial sekali!

Arya Wira hampir meledak karena kesal.

Tangannya mulai gemetar ketika ia melanjutkan untuk mengocok Keberuntungan Bawaan.

Dadu pun berputar.

【Keberuntungan Bawaan sebagai berikut】

【Pesona Tiada Tanding: Wajah bak makhluk abadi, daya tarik tingkat tertinggi】

【Pecandu Pedang Takdir: Bakat Dao Pedang tingkat tertinggi, kemampuan memahami Dao Pedang tingkat tertinggi】

【Langkah Bayangan Tanpa Tanding: Bakat teknik gerakan tingkat tertinggi】

【Keturunan Kaisar Abadi: Setelah memulai kehidupan permainan, memperoleh teknik kultivasi tiada banding serta seribu Batu Roh Tingkat Tinggi】

Arya Wira tertegun.

Matanya membelalak.

Lalu kegembiraan luar biasa meledak di hatinya.

Empat Keberuntungan Bawaan!

Ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan empat atribut keberuntungan sekaligus.

Dan semuanya tampak sangat kuat.

Semakin lama ia melihatnya, semakin berdebar hatinya.

Ini dia!

Tidak…

Ini semua dia!

Empat tingkat tertinggi dan satu tingkat tak tertandingi!

Sekilas saja sudah terlihat luar biasa.

Setelah mengocok dadu selama sebelas tahun tanpa henti, akhirnya langit tidak mengecewakan usaha kerasnya.

Arya Wira berusaha menenangkan dirinya.

Karena ia belum memiliki Akar Spiritual, ia belum bisa menekan tombol untuk memulai kehidupan permainan.

Ia masih harus mendapatkan Akar Spiritual terlebih dahulu.

“Pada akhirnya, penderitaan panjang ini telah berbuah manis. Dengan empat keberuntungan tingkat tertinggi ini, bahkan jika aku baru mulai berkultivasi pada usia empat puluh tahun pun, aku masih bisa mengejar. Sekarang aku bisa mengocok Akar Spiritual dengan tenang.”

Memikirkan hal itu membuat Arya Wira merasa sangat bahagia.

Ia telah mengocok dadu selama sebelas tahun.

Jika harus menunggu sebelas tahun lagi, itu pun bukan masalah.

Arya Wira menghela napas panjang.

Lalu ia berdiri dan keluar dari kamar untuk memulai pekerjaan hariannya.

Kamar yang ia tempati dihuni oleh enam orang.

Setiap orang memiliki satu tempat tidur.

Yang lain sudah bangun sejak pagi.

Semua orang memiliki area kerja masing-masing.

Tak seorang pun berani melakukan kesalahan.

Karena Arya Wira masih muda, ia hanya diberi tugas sederhana.

Tetua Besi tidak berani memberinya tanggung jawab menjaga satu area penuh.

Hari ini sinar matahari terasa sangat cerah.

Mungkin karena suasana hatinya yang sangat baik.

Para pelayan lain tidak menyadari perubahan apa pun pada diri Arya Wira.

Karena ia belum memulai kehidupan permainan, efek dari empat keberuntungan itu tentu belum muncul.

Tengah hari pun tiba.

Dua orang kultivator datang ke kebun obat.

Wilayah Sekte Yujing sangat luas.

Kebun obat itu dikelilingi pegunungan.

Biasanya para kultivator tidak diperbolehkan datang ke sini.

Yang sering datang hanyalah para diaken Sekte Luar untuk mengambil pil obat.

Namun kedua kultivator yang datang hari ini tampak berbeda.

Seorang pria dan seorang wanita.

Temperamen mereka sangat luar biasa.

Mereka tampak seperti pasangan abadi dari dunia langit.

Semua pelayan langsung menoleh melihat mereka.

Arya Wira juga menoleh ke arah pintu masuk kebun obat.

“Benar-benar terang dan indah…”

Ia menghela napas kagum.

Pakaian para pelayan di sini sudah lusuh dan kotor.

Sebaliknya, jubah kedua kultivator itu bersih dan megah.

Mereka tampak seperti karakter NPC yang keluar dari sebuah permainan kultivasi daring.

Arya Wira hanya mengamati secara santai.

Ia sama sekali tidak merasa iri.

Bagaimanapun juga, ia telah memperoleh empat keberuntungan tingkat tertinggi.

Prestasinya di masa depan pasti akan jauh melampaui murid Sekte Luar biasa di Sekte Yujing.

Salah satu kultivator itu, pria tersebut, menatap Pak Wiraatma lalu berkata dengan wajah datar,

“Mulai hari ini, kami berdua akan bertanggung jawab menjaga Kebun Obat milik Tetua Besi. Kalian tidak perlu memperhatikan kami, dan kalian juga tidak diperbolehkan mengganggu kultivasi kami.”

Pak Wiraatma segera membungkuk hormat.

Para pelayan lain pun menundukkan kepala.

Sementara itu, Arya Wira diam-diam menatap kedua kultivator tersebut.

Ia memiliki firasat.

Kehidupan barunya di dunia kultivasi…

baru saja akan benar-benar dimulai.



Rabu, 18 Februari 2026

Abu dibalik emas 3

Bab 7 – Hantu yang Bernapas

Enam bulan setelah malam di kapal Ocean Queen.

Singapura, kawasan Marina Bay Sands. Malam hujan deras lagi—seperti Jakarta yang tak pernah benar-benar pergi. Di salah satu suite penthouse tertinggi, Dito Pratama berdiri di balkon kaca, memandang lampu kota yang berkilauan di bawah sana. Tangannya memegang gelas whiskey, tapi isinya hampir tak tersentuh. Matanya kosong, seperti orang yang sudah mati di dalam.

Sejak malam itu, Dito tak lagi tidur nyenyak. Setiap kali mata terpejam, dia melihat wajah Rayhan—kakak tertuanya yang tertembak di gudang Cakung. Tapi yang lebih menyiksa: dia melihat Arga berjalan pergi di dek kapal, meninggalkannya hidup tapi hancur.

Dia pikir semuanya sudah selesai. Rekening offshore aman di Cayman. Bisnis dengan kartel Lampung berjalan lancar. Nadia mati, Rendra mati, Arga... hilang entah ke mana. Tapi kekosongan itu lebih buruk daripada kematian.

Ponsel di meja bergetar. Nomor tak dikenal. Dito mengangkat dengan tangan gemetar.

Suara di seberang rendah, serak, familiar sampai membuat bulu kuduknya berdiri.

“Dito.”

Dito menjatuhkan gelas. Whiskey tumpah ke karpet putih.

“Ka... Kak Rayhan?”

Tawa kecil terdengar—tawa yang dulu sering dia dengar saat mereka kecil, saat Rayhan mengajarinya naik sepeda.

“Kau terdengar terkejut, adik. Padahal kau yang paling pintar di antara kita.”

Dito mundur sampai punggungnya menyentuh pagar balkon. “Kau... kau mati. Aku lihat sendiri. CCTV... peluru...”

“Peluru memang mengenai. Tapi bukan yang fatal. Dokter bayaran Pak Tua yang menangani. Dia menyembunyikanku selama berbulan-bulan. Pak Tua ingin aku ‘mati’ dulu—untuk membersihkan rumah dari pengkhianat. Kau dan Rendra termasuk yang dia curigai.”

Dito terduduk di lantai. Air mata mengalir tanpa suara.

“Kenapa... kenapa kau biarkan aku percaya kau mati? Kenapa kau biarkan aku...”

“Karena aku ingin melihat seberapa jauh kau akan pergi, To. Dan kau pergi terlalu jauh.”

Hening panjang.

“Lalu sekarang?” tanya Dito pelan. “Kau mau bunuh aku?”

“Bukan aku yang akan memutuskan itu.”

Pintu suite terbuka pelan tanpa ketukan. Dito menoleh.

Di ambang pintu berdiri dua sosok.

Pertama: Arga. Jaket kulit hitamnya masih sama, tapi sekarang ada bekas luka baru di leher dan tangan. Matanya dingin, tapi tak lagi penuh amarah—hanya kelelahan.

Kedua: Rayhan Pratama. Rambutnya lebih pendek, wajahnya lebih kurus, ada bekas luka tembak di bahu kanan yang terlihat dari balik kemeja putih terbuka. Dia berjalan pincang sedikit, tapi auranya masih sama—kakak tertua yang selalu mengendalikan segalanya.

Rayhan melangkah masuk, diikuti Arga yang menutup pintu di belakangnya.

Dito tak bisa bicara. Dia hanya menatap kakak tertuanya yang “kembali dari kubur”.

Rayhan berhenti di depan Dito, menatap ke bawah.

“Kau pikir kekuasaan itu milikmu, To? Kau pikir dengan membiarkan aku mati, kau bisa ambil alih?”

Dito menggeleng lemah. “Aku... aku salah. Aku cuma ingin...”

“Apa yang kau inginkan tak penting lagi,” potong Rayhan. Suaranya tenang, tapi ada nada akhir di dalamnya. “Kau sudah membunuh kepercayaan keluarga. Itu lebih buruk daripada membunuh tubuh.”

Arga berdiri di samping Rayhan, tangannya di saku—mungkin memegang karambit yang sama.

Rayhan melanjutkan, “Pak Tua sudah tahu semuanya. Dia yang suruh aku kembali. Bukan untuk balas dendam... tapi untuk membersihkan. Serigala Hitam tak bisa dipimpin oleh pengkhianat.”

Dito menunduk. “Bunuh aku saja. Aku pantas.”

Rayhan berlutut di depan adiknya, mengangkat dagu Dito dengan tangan yang dingin.

“Aku tidak akan membunuhmu, To. Karena darah keluarga tak pernah kering—tapi bisa dicabut haknya.”

Dia menoleh ke Arga.

“Arga. Kau yang putuskan nasibnya.”

Arga diam lama. Matanya menatap Dito—bukan sebagai musuh, tapi sebagai adik yang pernah dia lindungi.

Akhirnya Arga bicara, suaranya pelan tapi tegas.

“Kau hidup. Tapi kau keluar dari Serigala Hitam. Selamanya. Semua rekeningmu dibekukan. Identitasmu dihapus. Kau mulai dari nol—tanpa nama Pratama, tanpa apa pun. Jika kau coba kembali... aku sendiri yang akan mengakhiri.”

Dito mengangguk lemah. Air matanya jatuh ke lantai.

Rayhan berdiri, menepuk bahu Arga.

“Kita pulang, Ga. Jakarta menunggu.”

Mereka berdua berbalik menuju pintu.

Di ambang pintu, Rayhan berhenti, tanpa menoleh.

“To... suatu hari, mungkin kau bisa menebus. Tapi bukan hari ini.”

Pintu tertutup.

Dito sendirian di penthouse mewah yang tiba-tiba terasa seperti penjara.

Di luar, hujan masih deras.

Di dasar hatinya, dia tahu: abu di balik emas bukan miliknya lagi.

Tapi setidaknya, kakak-kakaknya masih bernapas.

**Bab Akhir – Darah yang Tak Kering**

Jakarta, satu tahun kemudian.

Pemakaman Tanah Kusir lagi. Batu nisan Rayhan sudah dilepas. Di tempat yang sama, sekarang tertulis nama baru—bukan nama sungguhan, tapi nama samaran yang dipakai Pak Tua untuk “mengubur” masa lalu.

Rayhan, Arga, dan Pak Tua berdiri di depan pusara kosong itu.

Pak Tua menghela napas.

“Serigala Hitam aman sekarang. Tapi keluarga... keluarga butuh waktu.”

Arga mengangguk. “Dito?”

Rayhan menatap ke langit mendung.

“Dia di suatu tempat di Jawa Timur. Bekerja di pasar ikan. Hidup biasa. Tak ada kontak. Tapi... dia hidup.”

Arga memasukkan tangan ke saku jaket. Di dalamnya ada foto lama tiga bersaudara kecil—sekarang ditambah satu foto baru: Dito sendirian di pasar, memandang ke kamera dari kejauhan, seperti seseorang yang diamati tapi tak tahu.

“Darah keluarga tak pernah kering,” gumam Arga.

Rayhan tersenyum tipis—senyum pertama setelah sekian lama.

“Tapi kadang, darah itu harus ditumpahkan dulu supaya bisa mengalir lagi.”

Mereka bertiga berjalan pergi, meninggalkan pusara kosong di bawah hujan yang mulai reda.

Di kejauhan, angin membawa suara samar—seperti tawa anak kecil di bawah pohon mangga.

**TAMAT**

😈🔥

Minggu, 08 Februari 2026

kutukan Naga Sang Dewa Pedang


Sinopsis Novel

Seratus tahun setelah kejatuhannya yang mengguncang seluruh dunia kultivasi, Sang Santo Teragung di bawah kolong langit terlahir kembali. Jiwa kuno itu kini bersemayam dalam tubuh baru bernama Jiang Longwei—seorang pemuda yang tampak biasa, namun menyimpan ingatan, pengalaman, dan kehendak seorang leluhur purba yang pernah berdiri di puncak zaman.

Di masa lampau, Jiang Longwei adalah sosok tak tertandingi. Pedangnya pernah membelah cakrawala, namanya pernah membuat sepuluh ribu sekte tunduk, dan langkahnya pernah mengguncang gerbang keabadian. Namun pengkhianatan, perebutan takdir, dan hukum langit yang kejam menjatuhkannya ke dalam kematian. Kini, setelah satu abad berlalu, roda nasib kembali berputar—dan ia bangkit, lebih tenang, lebih dingin, serta jauh lebih berbahaya.

Dengan fondasi pengalaman ribuan tahun, Jiang Longwei menapaki ulang jalan kultivasi dari dasar. Teknik-teknik kuno yang telah lama punah, pemahaman mendalam tentang hukum langit dan bumi, serta ketajaman naluri seorang Santo menjadikannya eksistensi yang tak masuk akal bagi generasi baru. Meramu pil dengan tingkat keberhasilan sempurna hanyalah keterampilan dasar baginya. Kecepatan kultivasinya membuat para jenius runtuh oleh rasa malu. Sementara pengalaman hidupnya menjadikan segala skema dan intrik tampak seperti permainan anak-anak.

Di tengah dunia yang telah berubah—sekte-sekte bangkit dan runtuh, kekaisaran berganti nama, serta para jenius baru memproklamasikan diri sebagai pilihan langit—Jiang Longwei melangkah tanpa tergesa. Ia menertawakan kesombongan, menghancurkan penindasan, dan menagih satu per satu utang darah dari masa lalu. Namun di balik kebangkitannya, hukum langit tidak tinggal diam. Rahasia kelahirannya kembali, kebenaran tentang kematiannya dahulu, serta bayang-bayang musuh purba perlahan menampakkan diri.

Ini bukan sekadar kisah balas dendam.
Ini adalah perjalanan seorang leluhur kuno yang menantang ulang takdir,
mengguncang kembali sepuluh ribu dunia,
dan membuktikan bahwa meski zaman berganti,

Santo sejati tetaplah Santo.

Keberadaan Jiang Longwei telah ditakdirkan untuk menertawakan ribuan jenius—
dan sekali lagi, berdiri di puncak langit dan bumi.

Sabtu, 29 November 2025

Rebith of the war emperor (2)

a Chapter 2: Buddha Vein Condensation Technique

Long Che never expected that the Crouching Dragon's Number One Divine Artifact, the Eight Desolations Demon Suppression Tower, which had accompanied him in conquering the world in his previous life, would actually be Rebirth with him!

"Hahaha! With this Divine Weapon, my return to the Peak of the Martial Dao will be just around the corner!"

A surge of towering ambition spontaneously arose!

"The hundred thousand demons suppressed in the Eight Desolations Demon Suppression Tower would be a cataclysm for others, but for me, they are abundant resources for reaching the Peak of the Martial Dao! Slaying demons and slaughtering monsters, gaining their power, is enough to advance to Martial Venerable, Martial Saint, and become an Emperor!"

After his surprise, Long Che tried to communicate with the Eight Desolations Demon Suppression Tower using his Soul Power, but he couldn't enter it at all.

"With my current power, I can't communicate with such a Divine Artifact at all. To utilize the demons suppressed within it, my Cultivation must at least reach the Battle Ancestor Realm..."

With Long Che's experience, he immediately saw that with his current meager power, he couldn't communicate with such a powerful Divine Weapon, let alone slaughter the demons within it, take their demon cores and magic cores, claim them for his own, and improve his Cultivation.

He currently had no Cultivation whatsoever; he was just a living corpse. The Battle Ancestor Realm was an insurmountable chasm away!

Having such a vast resource treasure trove as the Eight Desolations Demon Suppression Tower but being unable to use it, Long Che couldn't help but feel extremely depressed.

"Eh? Wait a minute..."

His eyes darted around, and Long Che's eyes suddenly lit up.

"This white jade crystal coffin is made of ten-thousand-year-old cold ice, and it contains the purest Heaven and Earth Mystic Power. My old man is really generous... To use such a good thing as a coffin is really a waste..."

With Long Che's methods, anywhere under Heaven, anything containing Mystic Power could be used for Cultivation.

Even a coffin was no exception.

Then, he found a Cultivation Technique called "Futu Ningmai Technique" in his memory, and immediately used his powerful Spiritual Power to activate this Cultivation Technique.

With the Cultivation foundation of the Number One Battle Emperor of the World, any Cultivation Technique he casually found would be a method that people would fight over.

The Futu Ningmai Technique he chose for himself was even a Saint Grade among them. The most remarkable thing was that it could repair severely damaged Lingwu Bloodlines to the maximum extent, regardless of Cultivation limitations.

"Buzz..."

As the Futu Ningmai Technique slowly began to operate, Long Che clearly felt that the flesh and blood in his body began to undergo subtle changes. It seemed that small whirlpools were forming around the flesh and blood, starting to absorb the faint, thread-like Profound Qi from the surroundings.

This Profound Qi was the pure Profound Qi emitted from the white jade crystal coffin. After being absorbed, it fused with Long Che's flesh and blood, repairing the damaged Bloodline and bones.

The coffin made of this white jade crystal was indeed High Grade. A corpse placed inside it could remain incorrupt for a hundred years, and the reason was the effect of this pure Profound Qi.

From this point, one could also see how deep Long Jingyun's love for his son was.

However, even though Long Che deliberately guided this Cultivation Technique to operate slowly, intense pain still came in waves, which showed how severe the previous injuries were!

But after all, the Futu Ningmai Technique was a Saint Grade for repairing Bloodlines. An hour later, all the intense pain throughout his body completely disappeared.

Repairing all the shattered and broken flesh and bones throughout his body in just one hour was simply a miracle. Under Heaven, such a thing would probably only happen to Long Che.

And after his flesh and blood were repaired, the Futu Ningmai Technique also gradually began to operate faster. Long Che then used the pure Profound Qi from this white jade crystal coffin to begin repairing his broken Lingwu Bloodline.

As the Cultivation Technique operated, strands of white misty Profound Qi began to drill into Long Che's body.

These pure Profound Qi also contained the attribute of cold ice, which had a unique tempering effect on flesh and blood.

After the previous intense pain, the current reshaping of the Lingwu Bloodline made Long Che feel as if he was in a state of enjoyment.

Finally, an hour passed, and his body trembled slightly. A Lingwu Bloodline was completely repaired and connected!

Correspondingly, Long Che's Cultivation also rose to the First Level Battle Apprentice Realm.


"Continue..."

Long Che's expression was indifferent.

This First Level Battle Apprentice Realm was insignificant to him.

The Futu Ningmai Technique continued to operate, and after another hour, finally, the second Lingwu Bloodline was connected!

...This repair process continued until dusk.

The sudden rain had just stopped.

Squeak—

The tiger carriage pulling the coffin finally stopped.

Ahead was the Long Clan Residence of Tianmen Town.

However, at this moment, at the gate of the residence, what greeted their team was not the sad faces of family members, but a group of Long Family Guards holding strong bows and Sharp Weapons!

Arrows were on the strings, facing them..... contiued to chapter 3

Selasa, 25 November 2025

Rebirth of the War Emperor


Chapter 1: Rebirth of the War Emperor

AI Model: gemini-2.5-flash
Thunder roared, lightning tore through the sky!
Thick dark clouds, carrying a violent storm, pressed in, making the sky dim and the earth dark!
"Che'er!"
A sorrowful cry, like a clap of thunder, made all who heard it heartbroken!
On the Crouching Dragon Ancient Path!
Nine Scarlet-tailed Tigers pulled a giant purple-gold sandalwood carriage, slowly heading towards Tianmen Town, which was covered in dark clouds.
The heavy carriage left two deep ruts on the ancient path.
On the carriage, a white jade crystal coffin, abrupt and striking, was enveloped in a layer of hazy white light.
Beside the coffin stood a burly man with a leopard's head and round eyes, wearing a brocade robe and a large cloak. At this moment, his fists were clenched, and his face was filled with intense grief and unwillingness.
"Ziyang Sect! My son, Long Che, died inexplicably within your Sect. His nine meridians completely destroyed and his Battle Soul shattered, how could it have been caused by a Yao Beast!"
"I only hate that my Long Family is weak. If we rise again one day, I, Long Jingyun, will surely slaughter your entire Sect and avenge this blood feud!"
Long Jingyun, the Long Family Patriarch, let out low roars of unwillingness. His tiger-like eyes were blood-red, filled with deep-seated hatred!
Two teams of Long Family Guards, solemn and grave, followed behind the coffin, walking slowly.
Grief enveloped the entire procession.
Between heaven and earth, the fierce wind howled like ghosts crying, and the thunder and lightning flashed like demons screaming, revealing endless desolation... "Crack!"
Suddenly, a deafening thunderclap tore through the clouds, streaked across the sky, and descended from above.
It struck precisely upon the white jade crystal coffin!
Everyone was shaken, their hearts pounding and their scalps tingling. Even Long Jingyun couldn't help but be startled:
"Indeed, my son died unjustly! Even the heavens are enraged!"
Strangely, with such a powerful thunderbolt, even if the white jade crystal coffin was made of ten-thousand-year-old ice, it should have been annihilated!
However, the white jade crystal coffin merely flashed with a cold light before returning to its original state!
After the thunderbolt, the heavy rain poured down, raging wildly as if to destroy the world!
And as all the Long Family were covered by grief and the heavy rain, continuing their numb journey, a faint voice echoed from within the white jade crystal coffin.
"Hmm? This Emperor actually... underwent Rebirth? Is this the world a hundred years later?"
In the coffin, a young man with starry eyes and sword-like brows suddenly opened his eyes, and at the same time, a surge of memories flooded his mind.
A hundred years ago, Extraterrestrial Demons invaded the Crouching Dragon Continent. The Number One Battle Emperor of the World, Long Che, in order to save the common people of the world, single-handedly charged into the demon army, used the Devouring Heaven Sword to furiously slay the ten great demon leaders, and then used the Divine Artifact Eight Desolations Demon Suppression Tower to suppress and Seal one hundred thousand demons. Afterward, he exhausted his Sword Emperor Bloodline to repair the plane crystal wall system of the Crouching Dragon Continent, preventing a catastrophe!
However, after slaying the demons, at his weakest moment, he was ambushed by the Three Super War Sovereigns of the Crouching Dragon Continent, who took advantage of his weakness and jointly killed him at the Dragon Burial Platform. His four limbs and head were severed and buried separately in the five great divine states of the Crouching Dragon Continent.
"Hmph! Heavenly Sound, Ghost Fiend, Xuan Mingzi! When the world was about to collapse, you acted like cowards! This Emperor saved the common people of the world, and you couldn't wait to seize power and usurp the throne! You even tried to snatch this Emperor's peerless Divine Artifact, the Eight Desolations Demon Suppression Tower!"
"You didn't expect it, did you? This Emperor actually didn't die, and my Soul Transmigrated to a hundred years later! A hundred years, you three bastards should still be alive, right? Good! Just wait, the day this Emperor returns to the Peak will be the day of your demise!"
Long Che's eyes were filled with endless coldness.
However, Long Che quickly hid the anger in his heart.
As the World's Number One Devouring Heaven Sword Emperor, his mental fortitude was far beyond that of ordinary people. Even if he fell from grace, that immortal heart of a strong person would never allow him to be disheartened!
A tiger in a flat plain is still a tiger, a Dragon in a shallow pond is still called a Dragon!
Sparrows can never know the grand ambition of a swan spreading its wings and soaring into the sky!
Immediately, another surge of memories flooded his mind.
"You're also called Long Che? The first Disciple of Ziyang Sect? The first Genius in Tianmen Town in nearly a hundred years to reach the Battle Master Realm before the age of fifteen!"
"But because he was too outstanding, he snatched the qualification to study at the Southern Border Martial Academy from the illegitimate son of Real Person Ziyang, the Sect Master of Ziyang Sect. Thus, he was brutally assassinated by Real Person Ziyang, his Battle Soul shattered, his nine meridians crippled, and it was falsely claimed that he was attacked and killed by powerful Yao Beasts within Ziyang Mountain... Then, the Long Family was notified to come to Ziyang Sect to retrieve the already gruesome and cold corpse, and bring it back to the Family..."
"Heh heh, what a world where the strong prey on the weak and bullies run rampant!"
"Long Che! Since this Emperor has undergone Rebirth, from now on, you and I are one! Your hatred is mine, and I will accept everything about you. I will walk this Grand Dao of Heaven once again!"
Long Che calmly accepted the reality and then began to examine his body.
"Nine meridians completely destroyed, Battle Soul shattered, tendons broken and bones fractured... What a Real Person Ziyang! A mere Battle Master Realm, yet he dares to be so ruthless!"
"As a Sect Master, to kill a Genius and even destroy his nine Lingwu Bloodlines, even if he didn't die, he would become a cripple! This deep hatred, one day, I will repay you a hundredfold!"
"Hmph, as the World's Number One Sword Emperor, let alone repairing the nine meridians and Battle Soul, even regenerating the nine meridians and reshaping the Battle Soul, what difficulty is there? It's just... I'm currently lying in a white jade crystal coffin, lacking Spirit Pills and miraculous medicines..."
Even with Long Che's heaven-defying abilities, he couldn't help but frown at this moment.
A clever housewife cannot cook without rice. His current body could be described as utterly gruesome!
Not only were his nine meridians completely destroyed and his Battle Soul shattered, but he also had not a single trace of Profound Qi throughout his entire body. Even his flesh and blood were already cold, and his bones were broken into pieces. It was extremely difficult for him to even move!
If his Soul hadn't Transmigrated into this body, this body would simply be a corpse!
Moreover, it was the kind with torn skin and flesh, broken tendons, and shattered bones!
Upon discovering this situation, Long Che couldn't help but mentally curse Real Person Ziyang's ancestors once more.
On the Crouching Dragon Continent, the Cultivation Ranks are divided into Battle Apprentice, Battle Master, Battle Ancestor, Battle King, Battle Venerable... Battle Apprentice has nine Ranks, corresponding to the nine Lingwu Bloodlines within a Cultivator's body.
Opening one meridian means advancing one Rank!
Once all nine Lingwu Bloodlines are completely opened, one can condense a Battle Soul within their Dantian and advance to become a Battle Master expert.
Originally, with Long Che's talent, he had already condensed a Battle Soul and become a Battle Master, with limitless prospects. But now, to have met such a tragic end, it was truly a case of heaven envying a Genius.
"Alas, this Emperor's glorious reputation was ruined by villains. After the Devouring Heaven Sword slew the ten great demon leaders, the Sword Spirit was severely injured and its whereabouts unknown... My Eight Desolations Demon Suppression Tower, known as the Crouching Dragon's Number One Divine Artifact, is also missing..."
"However, this Emperor possesses a thousand Cultivation methods and can once again create the legend of a War Emperor! The most pressing matter is to quickly find a way to reshape my Lingwu Bloodline..."
In this Rebirth, he must live a more glorious life than his previous one!
"Buzz..."
Just as Long Che frowned, suddenly, he felt a slight fluctuation within his Dantian.
"This fluctuation... so familiar, could it be..."
Long Che's consciousness sank into his Dantian. When he discovered the purple-gold divine tower within his Dantian, he was so excited that he nearly jumped out of the coffin!
"Eight Desolations Demon Suppression Tower! You actually Transmigrated with my Soul?!"
"This Emperor sealed one hundred thousand Extraterrestrial Demons within the Tower, and they... actually came along too?"
Continued Chapter 2

Kamis, 20 November 2025

Imigrant


Immigrant

by Tony BM

I came with pockets full of silence,
and a heart that carried more storms than maps.
The border did not ask my name—
only whether I could endure
the weight of beginning again.

I learned the language of lonely nights,
of roofs that echoed unfamiliar rain,
of streets that called me stranger
even when I smiled at them.

But hope is a stubborn seed.
It grows in the cracks of concrete cities,
in the warmth of borrowed kitchens,
in the kindness of a single open door.

And so I walk—
an immigrant of dreams,
a traveler of invisible wounds,
a believer that one day
this land will whisper back my name
as gently as the home I left behind.



Imigran
terjemahan

Aku datang dengan kantong berisi keheningan,
dan hati yang membawa lebih banyak badai daripada peta.
Perbatasan tidak menanyakan namaku—
hanya apakah aku mampu menahan
beban untuk memulai kembali.

Aku belajar bahasa malam-malam sepi,
tentang atap yang bergema oleh hujan yang asing,
tentang jalanan yang memanggilku orang asing
meski aku sudah mencoba tersenyum padanya.

Tapi harapan adalah benih yang keras kepala.
Ia tumbuh di celah-celah kota beton,
di hangatnya dapur yang dipinjam,
di kebaikan dari satu pintu yang terbuka.

Dan aku terus berjalan—
seorang imigran mimpi,
pengembara luka-luka yang tak terlihat,
seorang percaya bahwa suatu hari
tanah ini akan membisikkan kembali namaku
selembut rumah yang kutinggalkan.

Minggu, 16 November 2025

Andun Dance of Bengkulu: A Celebration of Joy, Community, and Courtship

 




Andun Dance of Bengkulu: A Celebration of Joy, Comm

The Andun Dance, also known simply as Tari Andun, is one of the most iconic traditional dances from the province of Bengkulu, Indonesia. This social dance has long been a symbol of togetherness, joy, and cultural identity for the people of Bengkulu, especially within the Rejang and Serawai communities.

Origins and Cultural Significance

Historically, Tari Andun was performed during important communal events such as harvest festivals, weddings, and village celebrations. In the past, it functioned as a courtship dance, allowing young men and women to meet, interact, and get to know each other in a respected and culturally guided manner. Over time, although the function of matchmaking has lessened, the dance remains an essential part of cultural ceremonies and public festivals.

Movement and Musical Accompaniment

The movements in Andun Dance are gentle, graceful, and open—symbolizing friendliness and mutual respect. Dancers often stand in two separate lines, men on one side and women on the other, slowly moving toward and around each other in rhythmic patterns. The motions emphasize curved arms, soft steps, and subtle gestures that reflect modesty and elegance.

Tari Andun is typically accompanied by traditional Bengkulu music, including gendang (drums), serunai (traditional wind instruments), and gong. The rhythm is lively yet steady, encouraging dancers to interact harmoniously.

Costumes and Visual Identity

Female dancers usually wear bright traditional attire, adorned with pending, kalung, and golden accessories that highlight the beauty of Bengkulu’s cultural design. Male dancers wear traditional clothing in complementary colors. Together, the costumes create a festive atmosphere that enhances the celebratory spirit of the dance.

Modern Presence and Preservation

In contemporary Bengkulu, Tari Andun continues to be performed at cultural festivals, school events, and regional celebrations. The local government and cultural organizations frequently promote the dance as part of efforts to preserve regional identity and encourage younger generations to participate. It has also been featured in national cultural exhibitions, helping introduce Bengkulu’s heritage to a wider audience.

Conclusion

Tari Andun is more than a dance—it is a living representation of Bengkulu’s communal values, hospitality, and artistic expression. Through graceful movements and joyful rhythms, this traditional dance continues to bring people together while preserving the cultural heartbeat of Bengkulu for future generations.


Jika ingin versi lebih panjang, lebih formal, atau format HTML untuk blog, tinggal bilang saja. 😊